Sabtu, 08 Januari 2011

"Kobong"

Oleh Abdullah Alawi

Kata kobong sangat dikenal dalam masyarakat Sunda, khususnya kalangan pesantren. Kata ini mengacu kepada asrama atau tempat tinggal para santri. Artinya sama dengan pondok pesantren. Biasanya, asrama ini dekat dengan rumah ajengan (kiai), masjid dan majelis ta’lim. Kata ngobong, adalah kata kerja untuk nyanteri, atau menjadi santri.

Jika diperhatikan, kata ini sepertinya mengacu kepada pesantren-pesantren salafi yang kental dengan kitab kuning, yang bahasa percakapan dan pengantar ngaji menggunakan bahasa Sunda. Sedangkan ngalogat menggunakan bahasa Jawa. Jarang sekali sekali mengacu kepada pesantren-pesantren modern yang diwajibkan bahasa Inggris dan Arab.

Herannya, kata ini juga seolah bahasa lisan. Maksudnya, kata ini tak pernah dicantumkan di data-data administratif pemerintahan dan kalangan pesantren sendiri. Saya belum pernah menemukan kata ini disandingkan dengan nama sebuah pondok pesantren. Misalnya, Kobong Al-Abdullah Alawiyah. Belum pernah! Tetap saja pondok pesantren Al-Abdullah Alawiyah.
Pada dasarnya, bentuk kobong sama dengan rumah penduduk di sekitarnya. Dulu, ketika rumah penduduk masih berbentuk panggung, kobong juga demikian. Dan, ketika zaman menginginkan tembok, kobong juga mengikutinya. Bedanya, ruang-ruang di kobong tidak selengkap rumah penduduk; tak ada ruang tamu, ruang keluarga, goah (tempat menyimpan beras yang terletak di dapur). Memang, ada dapur umum, biasanya terpisah dari bangunan induk.

Penjelasan di atas, hanyalah meraba-raba. Statusnya serampangan berdasar dari apa yang pernah saya alami. Itu pun beberapa tahun lalu. Pasti sudah banyak perubahan di sana-sini. Lagi pula, yang saya alami cuma setitik dari horison perkobongan di Sunda.

Saya menulis tentang ini karena kecewa terhadap Google yang tak bisa menjawab tentang pengertian, asal-muasal, sejak kapan digunakan kata kobong. Ketika saya tulis kata kobong, di halaman awal, kakek sejuta tanya sejuta jawab ini mengajak ziarah ke situs-situs berikut:
(dibuka pada tanggal 21 Desember 2010) Kobong - Wikipedia, the free encyclopedia, Video untuk kobong Kobong - Miara, Kopral Kobong on Myspace Music - Free Streaming MP3s, Pictures . kobong !! telpon 113 !! jangan 14045 .. ANDA PESAN KAMI ANTAR , Gambar untuk kobong, Laporkan gambar, Samsuel Hair Kobong | Facebook, Kobong - Stichting Esa Genang, YouTube - Kereta Barang Kobong Mbledug : Jempol kobong, Free Download Kopral Kobong Mp3, Mp4 3gp Video, Index Of Mp3.

Ketika saya klik, situs-situs ternyata tak ada kaitannya sama sekali dengan dunia perkobongan. Untung di bagian awal saya ketemu dengan Kobong Sastera Cipasung; sebuah situs sastera santeri-santeri pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Alhamdulillah!

Kondisi semacam ini, saya teringat akan tulisan Kang Iip Zulkipli Yahya tentang ngalogat. Menurut penelitiannya, kata ini tidak termasuk ke dalam kamus-kamus bahasa Sunda. Pun dalam Ensiklopedi Sunda (sebuah karya mutakhir Ayip Rosyidi dkk.). Padahal kata ngalogat adalah kata kerja yang berkaitan dengan ribuan orang Sunda sejak ratusan tahun lalu, yaitu para santri. Kemudian, dalam tulisan dia yang diterbitkan di tiga buku (yang salah satunya dimuat dalam Sadur; Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia, yang disunting Henri Chambert-Loir) itu mengontekstualisasikan dengan tergerusnya budaya Sunda, khususnya dalam bahasa.

Budayawan-budayawan Sunda meratap dengan keadaan ini. Mereka mengeluh di koran dan seminar-seminar. Dan kesimpulannya; bahasa Sunda menjelang ajal. Tapi dalam kondisi demikian, mereka tak pernah melirik kobong, yang setiap hari bercakap dalam bahasa Sunda.
Nah, dari sini Kang Iip kemudian bercerita tentang sejarah Sunda dan penyingkiran kalangan pesantren di masa kolonial. Mungkinkah ada semacam kontinuitas, kepanjangan tangan sejarah dari masa itu?

Kang Iip Menunjukkan, dalam setiap kongres bahasa dan sastera Sunda, kalangan Kobong tidak pernah diajak bicara. Hanya civitas akademika kalangan perguruan tinggi yang justeru bercakap dengan bahasa Indonesia. Mungkin mereka bisa merumuskan keadaan, menganalisa, dan mengabarkan, tapi kalangan kobong langsung praktik.

Barangkali mereka lupa, Haji Hasan Musthafa, sasterawan genius Sunda yang pada masa hidupnyaa dianggap sebagai salah satu dari 6 orang pandai di Nusantara, Muhammad Musa, Usep Romli H. M. (cepenis produktif berbahasa Sunda), Moh Ambri, (Novelis Sunda) R. A. F (sutradara film Inohong di Bojong Rangkong), kang Acep Zamzam Noor, dan K. H. Zainal Musthafa (pahlawan penolak seikerei ) dilahirkan dan dibesarkan di kobong. Sudah saatnya, mereka mengajak kalangan kobong, demikian rekomendasi kang Iip.

Ciputat, Desember 2010

2 komentar:

  1. mau ngobong dulu, semasa libur, :) sambil menulis

    BalasHapus
  2. doaku menyertaimu...nanti saya sorogan ya...

    BalasHapus